Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

Tuesday, October 27, 2009

Indikator dalam Technical Analysis

0 komentar
Technical Analysis (analisa teknikal) dalam pasar saham maupun forex telah berkembang sejak lama dan menjadi ilmu yang kompleks serta diteliti dan dikembangkan secara terus-menerus. Penelitian dan pengembangan ini sudah mulai lebih dari ratusan tahun yang lalu dengan diperkenalkannya pertama kali indeks DOW. Sekarang analisa teknikal telah mencakup berbagai macam indikator teknis yang bisa digunakan di pasar yang berbeda, dimana dengan indikator teknis ini dapat menjelaskan berbagai perilaku harga dan volume, analisis volatilitas, psikologi trading dan lain sebagainya.


Jika ratusan tahun yang lalu DOW indeks hanya digunakan untuk menganalisis pasar dan melihat tren pasar secara umum, sekarang, dengan revolusi dalam teknologi informasi, kita memiliki berbagai macam indikator teknis untuk menganalisis pasar. Saat ini, juga dikembangkan suatu sistem perdagangan berdasarkan beberapa indikator teknis - yakni sistem trading yang memungkinkan mengotomatisasi proses pembuatan keputusan trading tanpa memasukkan faktor emosional dari trading tsb. Pertanyaannya adalah berapa banyak dan indikator apa yang harus digunakan dalam analisa pasar? Tidak ada jawaban pasti dari pertanyaan ini. Pemilihan indikator tergantung pada banyak faktor salah satunya adalah gaya trading dan pengetahuan tentang pasar tsb. Namun, ada rekomendasi yang dapat dipertanggung jawabkan yang bisa digunakan oleh setiap trader.

1. Gunakan indikator teknis yang sudah familiar dengan Anda dan sudah sering di gunakan. Jika Anda trader pemula maka Anda bisa mulai dari yang sederhana lebih dahulu kemudian pindah ke indikator yang lebih rumit. Pergerakan harga rata-rata (Price Moving Average) dan pergerakan volume rata-rata (Volume Moving Average) adalah dua indikator dasar yang bisa digunakan dan sebagai landasan untuk penggunaan indikator teknis lainnya yang lebih kompleks.

2. Trend harga suatu saham selalu digambarkan dari perubahan harga dan volume (jumlah saham) yang diperdagangkan selama perubahan harga tsb. Oleh karena itu adalah logis untuk memiliki setidaknya satu indikator teknis berdasarkan harga dan volume tsb. Sebagai salah satu aturan dalam analisa teknikal adalah "tidak ada perubahan harga tanpa volume dan tidak ada volume tanpa pergerakan harga ".

3. Indikator dapat berguna untuk monitoring pergerakan harga suatu saham dan volatilitas pasar. Analis profesional tahu bahwa pasar berperilaku berbeda di saat pasar Bull dan Bear, dimana titik resistance-nya dimana titik support-nya dan sistem trading harus selalu disesuaikan agar dapat bereaksi saat pembalikan arah trend. Tergantung pada pengetahuan dan data yang dimiliki, bisa menggunakan VIX (indeks volatilitas), ATR (Average True Range) atau indikator volatilitas lainnya.

Itu adalah tiga aturan dasar yang mungkin bisa digunakan untuk setiap trader, terutama trader yang baru pertama kali dalam analisa teknis.

Analisa Saham | Saham Indonesia | Analisa Saham Indonesia | Belajar Analisa Saham
Belajar Analisa Saham Indonesia | Sharing knowledge to bring forward the Indonesia Stock Market


Wednesday, October 21, 2009

Mastering Psychology Can Make You Rich

0 komentar
You should never underestimate the importance of psychology when it comes to trading the various markets. Many traders believe they will become a master of trading by reading a book. Others by acquiring or developing some magical indicator or system. The truth of the matter is that it takes years of proper trading education along with experience to become a good trader. Some people do become good traders after putting in the time. The key to becoming a great trader is to master the psychology of trading.
The force behind psychology in the marketplace is human emotion. Fear, greed and hope are human emotions that have taken down many traders. A good example would be the emotion of "hope". Let’s say you bought xyz stock. Your xyz stock starts to go against you. The best thing you can do is get out of the stock, taking a small, manageable loss. But you keep watching your stock go lower and lower with the "hope" it will turn around. The emotion of "hope" just caused you a massive loss. The key is to eliminate all emotion when trading the markets. How is this accomplished?

First of all, you need a good sound trading plan to follow. Following your trading plan which includes solid money management is a great start. Then you need to change your way of thinking, modify your behavior. The best traders think differently from the rest. That's why they are great traders. You need to think in terms of "probabilities" once you have an edge in the market because of your sound trading plan. Winning trading doesn't have anything to do with being right or wrong on any particular trade because all trades have an uncertain outcome. You will be able to make a fortune over time because of your edge. Concentrate on the process, not the results. The results will take care of themselves.

The world's best traders and investors can put on a trade without hesitating or having to worry about it. They also can easily admit the trade isn't working and exit with a small loss. They don't let fear rule them, but at the same time, they are not reckless. You must always remember that each trade has an uncertain outcome with the odds in your favor. This is your trading edge. Your attitude is key to winning at nearly everything in life.





Analisa Saham | Saham Indonesia | Analisa Saham Indonesia | Belajar Analisa Saham
Belajar Analisa Saham Indonesia | Sharing knowledge to bring forward the Indonesia Stock Market


Thursday, October 15, 2009

Moving Averages Analysis


Moving average is one of the basic and most popular indicators in technical analysis
. From the name of this indicator you may already understand that this indicator shows the average price of a security (stock, option, bond, etc) over specified period of time or specified period of bars. There are two most used types of moving average: Simple Moving Average (short name SMA) and Exponential Moving Average (short name EMA). The difference between simple and exponential moving averages is that exponential one uses weighing factors to reduce the lag in simple MA.
The purpose of moving average is to smooth shorter-term price fluctuation within the longer-term trend in order to define the direction of the current longer-term trend. This technical indicator is one of the oldest in technical analysis
and is considered as trend following indicator or a lagging indicator. Price moving averages themselves do not predict coming trend reversals but rather follow the changes in the trend. However, smoothing factor they use allows to filter small price changes and alert when the price-trend change has become critical to consider opening/closing a position.

Moving Averages are widely used in different trading systems to confirm trend as well as generate conservative longer-term trading signals. Over the last several decades technicians have build the number of other technical indicators based on the moving averages which help traders to define price volatility (example could be Standard Deviation indicator), recognize trend direction (as an example - MACD), as a signal line (for instance TRIX with Signal Line) and to smooth other technical indicators such as volume, advances and declines.

MACD and MACD Histogram are one of the most popular technical indicators calculations of which are based on the Moving Averages. In technical analysis MACD is considered as momentum indicator and is used to show the relation between fast (smaller bar period) and slow (bigger bar period) moving averages. This is a simple technical indicator that calculates the difference between two exponential moving averages by oscillating around zero line (center line).

PPO (Percentage Price Oscillator) is another technical indicator that is very similar to MACD. Percentage Price Oscillator is calculated as ration between two moving averages (between fast and slow). It is analyzed and used in the same way MACD is used with the difference that it oscillates around 1 while MACD moves around 0.

Both MACD and PPO reveal the direction of the shorter term trend (fast MA) in relation to the longer term trend (slow MA) and used to generate trading signals from divergence, moving average crossovers and centerline crossovers.

src: http://www.articlebase.com

Analisa Saham | Saham Indonesia | Analisa Saham Indonesia | Belajar Analisa Saham
Belajar Analisa Saham Indonesia | Sharing knowledge to bring forward the Indonesia Stock Market

Thursday, February 26, 2009

Technical Analysis

0 komentar

Technical Analysis (TA) adalah salah satu metode yang digunakan untuk memprediksi pergerakan harga sebuah saham atau indeks di masa mendatang. Prediksi yang diambil berdasarkan analisis yang seksama dari pergerakan harga saham atau indeks sebelumnya. Dengan kata lain, trend harga dari suatu saham di masa depan adalah kecenderungan yang diturunkan berdasarkan pergerakan harga saham di masa lalu.

Technical Analysis tidak selalu menghasilkan hasil mutlak. Seperti halnya dengan peramalan sistem, TA dapat memberikan petunjuk tentang apa yang dapat diharapkan. Tetapi harapan itu bisa jadi akan berbenturan dengan kondisi pasar saat itu.

Jadi TA tidak akan membantu Anda secara total mengatasi risiko di pasar, tetapi jika digunakan dengan benar, dapat membantu untuk memprediksi dan mengambil langkah-langkah pencegahan ke taraf yang lebih besar.

Friday, February 13, 2009

Jenis-Jenis Saham

1 komentar

Watch TV on Computer
Watch over 4000 online channels
on your computer like TV
Beberapa hari yang lalu saya sudah menulis di blog ini sebagai catatan saya tentang pengertian apa itu saham.
Selanjutnya saya ingin mencatat tentang jenis-jenis saham pada umumnya.

Ketika saya ingin membeli saham sebuah perusahaan berarti saya sudah menyertakan modal saya pada perusahaan tersebut serta saya termasuk salah satu pemegang/pemilik saham atas perusahaan itu dan saya berhak untuk hadir dan memberikan suara dalam RUPS.

Kemudian untuk setiap lembar saham yang saya miliki itu, akan mewakili berapa persentasekah kepemilikan saya atas perusahaan itu? Dan termasuk jenis saham apakah yang saya miliki itu?

Setiap lembar saham akan mewakili persentase kepemilikan saya atas perusahaan itu dan bergantung pada jumlah saham yang diterbitkan.
Misalnya PT. XYZ memiliki modal Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) yang dikonversikan menjadi 2.000.000 (dua juta) lembar saham dengan nominal Rp 250,- per saham. Dengan demikian setiap lembar saham akan mewakili (1/2000000) X 100% = 0,00005%.
Seandainya saya memiliki 40 Lot atau 20.000 lembar saham, maka kepemilikan saya atas perusahaan PT. XYZ adalah (20000/2000000) x 100% = 1%.

Tadi telah disinggung diatas tentang kepemilikan saya atas PT XYZ setelah membeli sahamnya, sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah ada berapa jenis sahamkah dari sebuah perusahaan tsb?



Umumnya ada 2 jenis saham perusahaan yaitu Saham biasa (Common Stock) dan Saham preferen (Preferred Stock).

Karakteristik Saham biasa (Common Stock)
--------------------------------------------------------------
* Umumnya jika orang berbicara mengenai saham perusahaan berarti yang dimaksudkannya adalah saham biasa.
* Harapan investor atau saya yang memiliki saham biasa adalah pembagian deviden atau memperoleh capital gain jika terjadi kenaikan harga.
* merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling akhir atas pembagian deviden dan hak paling akhir atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tsb jatuh/rugi.
* deviden dibayarkan selama perusahaan memperoleh keuntungan.
* Setiap pemegang saham memiliki hak suara dalam RUPS.
* berhak mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain.

Karakteristik Saham preferen (preffered Stock)
-----------------------------------------------------------
* Gabungan antara karakteristik obligasi dan karakteristik saham biasa.
* Karakteristik obligasi misalnya,jumlah deviden dijamin artinya saya sebagai pemegang Saham preferen (Preferred Stock) akan dijanjikan sejumlah deviden yang jumlahnya pasti dan tetap dalam persentase (tingkat bunga) tertentu baik jika perusahaan memperoleh keuntungan ataupun kerugian (Dlm hal ini jika perusahaan tidak bisa membayar deviden karena rugi, maka pemilik saham ini berhak untuk mendapatkan deviden tsb di tahun-tahun yang akan datang atau di tahun2 sebelumnya)
* Memiliki hak lebih dibanding hak pemelik saham biasa yakni hak untuk mendapatkan deviden lebih dahulu dan memiliki hak suara lebih tinggi dibanding pemilik saham biasa.
* pemiliki berhak menukarkan saham ini dengan saham biasa

Saturday, January 17, 2009

Apakah Saham itu?

0 komentar
Apakah Saham itu?

Langkah pertama untuk mengerti pasar modal adalah pemahaman tentang saham itu sendiri.

Saham adalah bukti penyertaan modal baik dari perseorangan ataupun badan usaha pada suatu perusahaan.

Dengan menyertakan modal tsb, Anda atau badan usaha berhak untuk hadir dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan berhak juga untuk mendapatkan keuntungan perusahaan berupa deviden. Sebaliknya bagi perusahaan, modal yang didapatkan dari menerbitkan saham itu adalah nantinya akan digunakan untuk membiayai kegiatan perusahaan seperti untuk membayar utang, membiayai kebutuhan ekspansi dlsb.

Jika Anda memiliki saham suatu perusahaan untuk jangka panjang, maka berarti Anda telah menjadi bagian dari perusahaan tersebut dan berharap perusahaan tsb nantinya mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik (menghasilkan keuntungan).

Bilamana performansinya bagus dan memperoleh laba bersih perusahaan di akhir tahun, tentunya Anda akan mendapatkan pembagian keuntungan berupa deviden. Besarnya deviden yang akan dibagikan, tentu didasarkan pada keputusan RUPS.

Lalu bagaimana jika Anda membeli saham suatu perusahaan untuk jangka pendek atau menengah?

Jika harga saham suatu perusahaan meningkat dan Anda memutuskan untuk tidak memegang saham itu berlama-lama atau sesegera mungkin untuk menjualnya,tentu saja Anda akan memperoleh keuntungan juga yakni berupa capital gain (profit).
Jadi Capital gain (profit)itu adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga pembelian dengan harga penjualan.

Sebaliknya jika harga saham turun dan Anda memutuskan untuk melepas/menjual kepemilikan atas saham tsb maka Anda akan mengalami capital loss yakni kerugian akibat selisih harga pembelian dan harga penjualan.

Ada berapa jeniskah saham itu?

Tunggu tulisan saya berikutnya.

Related Websites

TAGS

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
 

Copyright 2010 Saham Indonesia. All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com

Saham | Analisa | Analisa Saham | Saham Indonesia | Memprediksi pergerakan saham berdasarkan AFL Amibroker |

bNekQZ5TEF3iPx3b3nN3oA==